Senangnyaa!!!! Setelah sekian tahun gak ketemu, akhirnya beberapa dari anak-anak Komunikasi’99 ketemu juga. Thanks to DInda karena kebetulan lagi di medan, dan Anim yang udah bersedia menghubungi semua temen temen, ahahah!!!

Dari mulai janjian via facebook aja, tretnya panjangnya udah ampun ampun. Ada yang bilang bisa, ada yang ga bisa, ada juga yang bilang “liat nanti yaaa”. Secara memang masing masing udah pada disibukin ama kerjaan dan keluarga, dan ada beberapa yang tempat tinggalnya jauh dari lokasi kita janji ketemuan. Di Pizza Hut setia budi bo!!! Rencana awal, pengennya ketemu di Merdeka Walk, tapi setelah melalui pertimbangan yang sangat kompleks, akhirnya diputuskanlah Pizza Hut Setia Budi.

Hampir pukul 7.30 malem, aku ama anim nyampe, dilokasi udah ada Dinda dan Sofni. Huaaa, teriakan segera membahana ke seantero ruangan, dan jadi pusat perhatian tamu2 yang laen, hahahaah!!! Setelah itu disusul Irfan, Ideng, Tores dan Era yang dateng langsung dari Kabanjahe, wehehehe….tu tampang udah acak2an aja ya ra….

Alam trakhir dateng ditemenin ama Debby yang segera aja buat anak2 yang laen pada ribut, hihihi secara alam bawa pacar, gituuuuu!!

Sayang juga sih lom pada ngumpul semua…..tapi mudah2an rencana buat reunian tahun 2012 bisa terlaksana ya woyyyy!!!!

Date

Date : July, 19th 2009
Time : 7pm
Place : Pizza Hut Setia Budi

Cerita ini aku dapat dari seorang teman melalui email…coba dibaca aja yaaa

_________________________________________________________
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku.. Meskipun
menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario
tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan
pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya
pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia
pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia
tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di
meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan
obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok
garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main
dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami.
Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek
sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya,
dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS,
karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU,
seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama
meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara,
seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang
ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan
mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia
bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu,
Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang
akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka
yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya
bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan
tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada
Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam
sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan
mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung
didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya,
dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat
di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah
kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan
menyapa dengan suara riangnya,

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau
makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus
mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi
itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan
penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak
pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun
!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih
sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan
anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan
masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit
ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami
kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu
komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha
begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan
membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku
nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah
menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya
keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya.. Dia berhasil membuka
password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa
buat tante Meisha ?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada
Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2
mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku
memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku
tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika
konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku
tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku
cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa,
meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang
tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun
tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan
kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa
melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia
inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan
tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu.
Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa
engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas.. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru
berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan
menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap
hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di
lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya.. Aku mengumpulkan
tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor
untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku
tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan
baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku.. Aku dulu memintanya menikahiku
karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah
semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi
istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang
perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa
dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak
menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan
mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia.
Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2
tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu.
Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu
mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah
pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja
dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona
padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku
tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin
memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan
tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam
dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang
diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu
mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor
dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ?
Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi istriku ?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya..

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia
bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah
wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima”

Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
memandang Meisha…… “

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2
padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi.
Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku
tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar
dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku
selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang
ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak
mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu,
dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang
selalu bermasalah.. …..

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap
berusaha dan menantinya.. ……”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“……….. …Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang
ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan
memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling
enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali,
dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir
9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu
dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku.
Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti
siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi
aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan,
Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan
dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar,
Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi
bergerak….. ..” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini
masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat
dewasa..

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang
dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan
memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki
dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah
terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika
seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend….may you rest in
peace…)

Yesterday is a history.
Tomorrow is a mystery.
Today is a gift..
That’s why it’s called “present”.
._,___
Kemarin adalah sejarah
Besok adalah misteri
Hari ini adalah hadiah
Itulah mengapa hari ini disebut sebagai pemberian “anugerah”

Trims

Too Anyone, how’s your love?

Mallory On The Move] *Judul* : Mallory On The Move *Pengarang* : Laurie
Friedman *Penerbit* : read! *Tahun* : 2006 *Genre* : Novel anak *Tebal* :
170 Halaman *ISBN* : 979-3828-14- 5

Mallory marah kepada Papa dan Mamanya karena mereka mengatakan bahwa mereka akan pindah rumah. Karena Mallory yakin saat dia pindah, semuanya bakal berubah, rumahnya, tetangganya, kotanya, dan yang lebih buruk lagi, teman-temannya juga bakal berubah. Tapi bagaimanapun usaha Mallory untuk mencegah kepindahan, semuanya tidak berhasil.

Sebuah pesta perpisahan diadakan oleh Mary Ann, sahabat Mallory, sehari
sebelum kepindahannya. Di sana Mary Ann dan Mallory berjanji tetap berteman selamanya dan melakukan sumpah kelingking untuk tidak akan berteman dengan cowok sebelah rumah.

Kesedihan gadis cilik yang hobi melempar *joke* ini, diperparah dengan
keberadaan kakak laki-lakinya, Max. Dimana pun berada Max selalu melontarkan kalimat yang menjengkelkan kepada Mallory. Bahkan Mallory berharap dia memiliki kakak selain Max. Ternyata Mallory tak sendiri, tetangga barunya juga mengalami hal yang sama. Joey, anak laki-laki yang tinggal di sebelah rumah Mallory, juga memiliki kakak perempuan yang menjengkelkan bernama Wennie. Karena kesamaan nasib ini lah, mereka menjadi teman dan membentuk Klub Anti Humor. Klub yang memiliki rencana untuk membuat kakak-kakaknya jera.

Tapi pertemanan dengan Joey membuat Mallory merasa bersalah dengan Mary Ann, karena teringat dengan sumpah kelingkingnya. Di sisi lain Mallory tak punya pilihan karena hanya Joey yang mau menemaninya bermain. Bermain di danau permintaan, melatih Cheeseburger, kucing Mallory, memberi salam, bermain skateboard dan masih banyak lagi permainan yang mereka lakukan setiap hari. Sampai suatu kabar yang membuat Mallory bingung, Mary Ann akan datang menginap di rumah baru Mallory.

Buku ini dilengkapi ilustrasi yang lucu, menggambarkan kisah yang penuh
dengan kegembiraan, kebingungan dan humor jenaka. Aku menyukai setiap Mallory membahasakan sesuatu dengan tebakan humor, seperti saat Mallory mengatakan pada Mama kalau Max makan donat dengan remah-remah di sekujur tubuhnya. *”Ma, makhluk apa yang duduk di kursi belakang dan kelihatannya sedang tersesat di badai salju?” “Apaan?” “Max! Max si Jorok!”* (hal 40)

Jadi ingin membaca serial Mallory yang lain. (Sinta)

*Judul*
: And Then There Were None; Sepuluh Anak Negro
*Pengarang*
: Agatha Christie
*Penerbit*
: Gramedia Pustaka Utama
*Tahun*
: 2005
*Genre*
: Novel Detektif
*Tebal*
: 264 Halaman
*ISBN*
: 979-686-068- 6

Sepuluh orang diundang secara misterius melalui surat untuk berlibur di
Pulau Negro dengan fasilitas pribadi yang mewah. Mereka tidak saling
mengenal, kecuali pasangan Rogers yang lebih dahulu datang dan menerima tugas sebagai pengurus rumah. Begitu sampai di tempat tujuan, mereka tidak menemukan pemilik pulau yang sekaligus pengirim surat undangan tersebut. Hanya syair kanak-kanak mengenai sepuluh anak Negro yang dibingkai di dinding setiap kamar. Para tamu tersentak saat berkumpul dan mendengar suara dari sebuah gramofon mengenai masa lalu masing-masing. Mereka dinyatakan bersalah atas kematian
seseorang. Semua berusaha menyangkal, mengajukan pembelaan. Ada yang bertanggung jawab atas kematian seorang anak, seorang *babysitter* , seorang prajurit muda, seorang majikan yang sakit, ada pula yang meninggalkan beberapa penduduk asli dengan sengaja untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.n Kemudian jatuhlah korban pertama karena tersedak, persis seperti syair kanak-kanak di dinding. Satu per satu kehilangan nyawa dengan mengenaskan. Suasana Pulau Negro yang
indah menjadi menyeramkan. Semua saling tuduh dan dicekam kengerian karena setiap kali ada yang tewas, satu boneka porselin di meja raib. Mereka bertanya-tanya siapa giliran berikutnya, sebab tak ada jalan untuk
meninggalkan pulau tersebut. Daya tarik novel Agatha Christie ini terletak antara lain pada desain sampul yang diperbaharui. Ditambah lagi ketegangan sejak awal. Banyaknya karakter memperkuat alur, dengan dialog-dialog yang mendukung sehingga alur meluncur cepat. Terbetot dalam adegan kematian setiap orang, seolah sedang menonton sebuah film *thriller* yang berdarah-darah. Mungkin karena berpijak pada film adaptasinya, *Identity*, maka pembaca akan terlanjur menyimpan ekspektasi sedari mula. Namanya adaptasi, garis besar saja yang diambil. Namun kekecewaan hadir dengan *ending* *Sepuluh Anak Negro* ini, yang terasa mementahkan semua peristiwa dramatis yang dipaparkan
sebelumnya. Sangat cocok jika novel ini dibaca pada malam hari, di tengah hujan badai yang anginnya menderu-deru atau saat amat sepi sambil mendengar jam dinding berdentang. Rasakan bulu roma Anda merinding. (rini)

Judul Buku: Mimpi Bayang Jingga
Penulis: Sanie B. Kuncoro

Apa impian terbesar dalam hidupmu? Impian Jingga adalah memiliki sebuah rumah di tepi pantai karang. Pantai itu berombak jernih hingga pasir putihnya terlihat jelas di dasar air. Akan ada banyak jajaran pohon kelapa dan palem, dengan dedaunan hijau yang teduh di tepian pantainya. Di depan rumah itu Jingga akan membuat perpustakaan dengan kafe di terasnya. Akan diterimanya para petualang yang datang dan pergi, meninggalkan dan membawa cerita dari segala penjuru bumi.

Lalu, apa jadinya dengan impian itu kala seorang lelaki menawarinya untuk menjadi Cinderella lengkap dengan kemewahannya? Kehidupan yang selama ini hanya mungkin dicapai dalam angannya tiba-tiba terpapar jelas di hadapannya. Akankah Jingga menyerahkan impiannya demi lelaki yang dicintainya itu?

Kisah yang pernah menjadi juara kedua lomba cerber tabloid Nyata ini akan memberikan sentuhan lembut nan memukau kepada Anda.

*Judul* : Ganteng is…. Dumb! *Pengarang* : Iwok Abqary *Penerbit* :
Gramedia Pustaka Utama *Tahun* : 2009 *Genre* : Teenlit *Tebal* : 232
Halaman *ISBN* : 978-979-22-4351-2

Banyak cewek cantik, tapi omongannya nggak nyambung. Tahunya hanya dandan, fashion, dan urusan gaul melulu. Di sini penulis “menyetarakan” fenomena berbau gender itu melalui pandangan seorang Saskia: bahwa Davi termasuksalah satu cowok yang modal tampang doang. Nggak punya prestasi apa pun, sehingga tak layak dilirik apa lagi dijadiin pacar.

Motivasi karakter utama, yakni Davi, sangat kuat. Untuk membuktikan bahwa pendapat Saskia itu keliru, ia tidak simsalabim menjadi cowok super rajin dan mendapatkan nilai cemerlang di segala bidang. Ia mengikuti satu lomba esai, yang dalam persiapannya saja sudah bikin jungkir balik untuk seorangDavi yang biasanya nyontek PR Aris.

Profil Aris, teman baik Davi, tak dapat dipandang sebelah mata. Cowok yang dijuluki Mas Piring oleh kasir minimarket lantaran piringnya selalu jadi sasaran amuk Davi kalo lagi bete (sindiran halus bagi pasutri yang kalo
berantem suka pake jurus piring terbang) ini adalah “imigran” dari
Tasikmalaya. Cetusan bahwa orang Tasik identik dengan tukang kredit cukup menggelitik, selain popularitasnya sebagai kota santri. Aris dengan
problematikanya sendiri dihadirkan dengan teknik *juxtaposition*, sehingga dua arus subplot mengalir bersamaan dalam teenlit satu ini. Konsistensi penulis memaparkan agar keduanya tidak bertabrakan atau saling mengganggu patut diacungi jempol.

Peran ilustrator tak boleh diabaikan pula, terutama pada waktu Riana
–sahabat Saskia– digambarkan main Zuma di kamar Saskia (hal. 170). Bagian favorit saya dalam novel, yang meraih predikat Pemenang Berbakat Lomba
Cerita Konyol Remaja GPU 2008, ini adalah ketika Davi berniat mundur dari presentasi esainya dan berada di kamar mandi.

Keseriusan penulis menjaga logika cerita sangat terlihat dari ketertataannya sampai akhir. Walaupun di beberapa bagian sempat terpeleset menjadi tell, *not show* untuk menjelaskan alasan karakter melakukan sesuatu. *Ganteng is… Dumb!* akan lebih segar lagi jika menggunakan sudut pandang “aku”, karena kadang-kadang penulis menyisipkan “komentar pribadi” seperti “Hihi..dasar” yang seharusnya muncul alamiah dari pihak pembaca.

Latar belakang Saskia yang *keukeuh *mengenai *“ganteng is dumb”* sebenarnya tak perlu dijelaskan benar. Namanya remaja, kadang-kadang alasan untuk sesuatu adalah hal “sepele” dan lemah alias dorongan emosi belaka. Bisa saja Saskia memang lebih mempedulikan prestasi dan perilaku seseorang daripada wajahnya, karena ia lain dengan remaja pada umumnya. Atau karena ia pernah beberapa kali mengenal cowok yang cakep tapi otaknya cekak, terus ilfil deh. Meski demikian, cukup melegakan sebab di sini tidak dikisahkan sedikit pun Saskia berusaha menggagalkan upaya “pembuktian diri” Davi. Inti pesannya adalah berpikir realistis, tidak ada yang orang sempurna, seperti dalam kalimat ini: *”Cowok ganteng, baik, kaya, jagoan dan cerdas hanya ada dalam tokoh-tokoh novel!” *(hal. 173) (rini)

Judul Buku: Pengakuan Casanova
Penulis: Giacomo Casanova

Cinta bisa mengejutkan. Cinta bisa bikin patah hati. Cinta bisa jadi
ilham karya seni. Tapi cinta adalah perasaan yang dimiliki semua
manusia tanpa membedakan kasta…

Buku ini adalah kisah tentang cinta yang kadang bikin sengsara, tragis, mengundang bahaya, sekaligus erotis, menggoda, penuh gairah, tapi terkadang seolah polos tanpa dosa, dan bahkan absurd. Sebuah buku yang layak dibaca oleh para lelaki dan wanita dewasa yang berpikiran terbuka.

Giacomo Casanova adalah sosok lelaki menarik penuh warna yang hidup pada abad kedelapan belas. Dia penulis, penyair, penerjemah, filsuf, pemikir bebas, petualang, bajingan, penjudi, penikmat makanan, pemain biola, bandar lotere, pebisnis, ahli nujum, dan sekaligus mata-mata. Sepanjang hidupnya, dia melakoni sederet petualangan asmara yang melambungkan namanya sebagai perayu legendaris dan penakluk wanita tersohor sedunia.

Memoar kontroversial yang untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini menyuguhkan episode petualangan cinta Casanova yang paling terkenal, termasuk saat dia berhasil menggoda dua biarawati
Venesia dan para perempuan bangsawan kelas atas Eropa. Dalam buku ini,
pembaca juga dapat membaca renungan-renungan Casanova tentang Tuhan, kehidupan, dan cinta. Sebuah buku mengejutkan yang akan membuat Anda penasaran, sekaligus terharu, dan tersenyum simpul.

*Judul* : Mimpi Sang Garuda *Pengarang* : Benny Rhamdani *Penerbit* : DAR! Mizan *Tahun* : 2009 *Genre* : Novel Anak *Tebal* : 128 Halaman *ISBN * : 978-979-066-016-8

Mimpi Sang Garuda merupakan buku anak yang menarik. Bercerita tentang Bayu dan teman-temannya. Bukan hanya tema persahabatan yang dibidik oleh penulis, melainkan ada konflik yang diramu menarik tentang kisah seorang anak yang bercita-cita besar tapi tak direstui oleh sang kakek. Bayu, tokoh sentral buku ini mempunyai konflik internal dengan sang kakek yang memang sangat membenci olahraga sepak bola. Kebencian sang kakek bermula karena anaknya –ayah Bayu– tak mengikuti kemauannya untuk menjadi pegawai Pertamina dan memilih profesi olahraga sepak bola. Kemarahan sang kakek berimbas pada cucunya, yaitu Bayu. Bayu yang memang menyukai sepak bola tak dapat menuruti kemauan sang kakek hingga pada akhirnya ada suatu kisah yang kelak membuat Bayu dilema. Padahal, Bayu mempunyai *skill* bola yang hebat hingga dijuluki persis seekor burung Garuda. Setiap bola yang ada di kakinya akan susah sekali dicuri oleh lawan. Namun, kejadian menyedihkan yang terjadi membuat Bayu mesti memilih. Membaca tulisan Benny Rhamdani ibarat menikmati sebuah makanan enak yang sayang bila tak dihabiskan. Bahasa yang mudah dicerna oleh anak dan kata-kata yang mengalir membuat pembaca akan betah berlama-lama untuk menuntaskan buku ini. Sisipan pengetahuan tentang moral dan pembelajaranuntuk anak pun dikemas menarik tanpa menggurui. Buku ini bagi pembaca akan bertambah nilainya, jika menuliskan sedikit saja mengenai teknik dasar permainan sepak bola, atau pun istilah-istilah yang sering dipakai dalam permainan olahraga melalui dialog ataupun paparan ketika Bayu ataupun Bang Ali mengajarkan latihan bola. Mungkin saja nanti dibuku kedua atau ketiga akan terpikir untuk menyisipkannya? Satu lagi buku bacaan anak yang rugi kalau dilewatkan. Sayangnya, loncatan cerita tiap bab masih membuat sedikit bingung . Sub bab yang ditulis seperti satu bagian tuntas sebuah cerita pendek yang tak bersambung tanpa intro di sub bab (cerita) selanjutnya, namun dibuat bersambung. Jujur saya kepincut pada tokoh pemain Bayu yang cute. Jadi semakin ingin mengikuti cerita Bayu, Heri, Amelia, Bang Duloh, dan juga sosok Kakek. (ryu)

Halaman Berikutnya »